gravatar

Mencari Gaya Belajar

Judul: The Power of Learning Styles -- Memacu Anak Melejitkan Prestasi dengan Mengenali Gaya Belajarnya
Penulis: Barbara Prashnig
Penerbit: Kaifa, Bandung
Cetakan: Pertama, Juni 2007
Tebal: 368 halaman

Bagaimana cara atau gaya belajar kita ketika memahami suatu pelajaran? Apakah sambil mendengarkan musik, sembari makan atau ngemil, atau dalam suasana hening tanpa ada suara apa pun seperti di pagi hari? Begitu beragam gaya belajar dari setiap individu, sesuai dengan kebiasaan dan keasyikannya masing-masing.

Meraih prestasi yang supergemilang dalam studi ternyata ditentukan oleh gaya belajar. Namun, gaya belajar ini sering menjadi persoalan karena para pembelajar tanpa disadari suka menyepelekan, bahkan cenderung mengabaikan. Banyak guru dan orang tua yang keliru mempraktikkan belajar mengajar, yaitu menyamakan proses belajar antara satu orang dan orang lain. Alhasil, pencapaian belajar anak dan peserta didik tidak maksimal. Buktinya, dalam satu kelas atau di antara anak tidak semuanya mencapai hasil yang memuaskan dalam satu pelajaran, namun senantiasa berbeda. Begitu pula dengan mata pelajaran yang lain.

Inilah salah satu kesalahan dalam sistem pembelajaran yang ada di Indonesia. Tidak disadari bahwa peserta didik memiliki hobi dan kebiasaan yang berlainan. Kalaupun dipaksakan dalam satu gaya belajar, bisa dipastikan hasilnya tidak akan maksimal, yang ada justru kegagalan. Kondisi ini pernah dialami tokoh dunia, misalnya Winston Churchill, yang pernah mendapat nilai buruk di sekolah dan dia gagap saat berbicara; Albert Einstein juga gagal dalam pelajaran matematika pada awal SMA, penguasaan bahasa Inggrisnya kacau dan suka melamun; Thomas Alva Edison suka dipukul gurunya karena dianggap suka bingung dan mengajukan banyak pertanyaan; Dan, Beethoven diremehkan gurunya karena tidak bisa mengalikan dan membagi. Masih banyak lagi bukti kegagalan mereka karena kesalahan menerapkan gaya belajar di kultur sekolah.

Para pembelajar di atas dicap gagal di sekolah, namun akhirnya bisa menjadi tokoh termasyhur hingga sekarang. Pertanyaannya, kenapa mereka yang semasa sekolahnya dipastikan gagal namun beberapa tahun kemudian melejit dan mengalahkan teman-temannya sewaktu sekolah? Jawabannya, mereka berhasil menemukan gaya belajar yang disukai. Sewaktu sekolah, mereka tidak menyukai gaya belajar yang diterapkan guru atau sekolah, sehingga menyebabkan otaknya menolak materi yang diajarkan para guru. Mereka senantiasa memilih gaya belajar yang menurutnya enak, dan memudahkan dalam memahami materi pelajaran.

Setelah berhasil menemukan gaya belajarnya, mereka pun dengan mudah dan cepat memakan semua materi yang disukai. Winston Churchill yang kemudian menjelma menjadi pemimpin dan orator terbesar abad ke-20; Albert Einstein menjadi ilmuwan terbesar pada zamannya; Thomas Alva Edison berhasil menemukan bola lampu yang sekarang menjadi penerang di malam hari; Beethoven menjadi seorang komposer terkenal dan karya-karya melegenda sampai sekarang.

Jangan heran kalau di antara siswa yang bodoh sewaktu kecil, namun menjelma menjadi orang top dan memiliki kompetensi yang tinggi di kemudian hari. Pasalnya, pada dasarnya orang itu memiliki kelebihan jika potensinya itu ditemukan dan dikembangkan secara konsisten. Pencapaian prestasi sebagai buah dari potensinya itu menjadikannya sesuatu yang hebat.

Menurut Dr. Kazuo Murakami, setiap orang pada dasarnya memiliki gen-gen positif, namun gen-gen positif itu 90-95% biasanya tertidur. Cara yang cocok merangsang gen-gen tersebut adalah dengan gaya belajar (learning styles), dan setiap orang memiliki style tersendiri. Kalau bingung membangunkannya, kita bisa meminta bantuan ke buku yang berjudul The Power of Learning Styles. Buku yang praktis dan dilengkapi visual cara belajar ini memperkaya kita dengan berbagai gaya belajar yang sesuai dengan karakter kita.

Penulis, Barbara Prashnig, seorang pakar dunia tentang keragaman gaya belajar ini berpendapat bahwa tiap-tiap orang memiliki gaya belajar, gaya berpikir, dan gaya bekerja yang seunik sidik jari. Keyakinan ini didasari bahwa setiap orang itu memiliki sikap dan karakter yang berbeda, makanya mustahil jika ingin disatukan dalam satu kerangka yang sama. Oleh karena itu, penulis menyarankan untuk mendobrak gaya belajar yang tidak cocok atau tidak menyenangkan. Buatlah gaya belajar yang sesuai dengan gaya hidup yang membuat kita belajar dengan fun.

Sebagaimana dikatakan A.W. Combs dalam buku ini, belajar terdiri atas dua bagian. Pertama, konfrontasi dengan informasi atau pengalaman baru. Kedua, penemuan akan makna personal dan individual. Informasi dan pengalaman baru yang kita terima tidak serta-merta langsung disimpan begitu saja, namun ada proses interaksi dengan diri kita yang menerimanya. Apakah sesuai dengan diri kita, atau kita pernah menerima informasi tersebut sebelumnya? Setelah itu baru akan lahir reaksi. Reaksi inilah yang merupakan imbas atau hasil dari proses belajar. Dan tentunya reaksi tiap orang berbeda-beda bergantung pada kesukaan atau respons terhadap informasi yang diterima.

Buku yang dilengkapi berbagai model gaya belajar ini, mengingatkan kita akan sembilan potensi kecerdasan yang kita miliki. Namun yang menarik di sini adalah tentang gaya belajar sebagai terapi baru dalam keluarga. Betapa tidak, ketidakharmonisan dalam keluarga bisa karena dipicu oleh personel keluarga tersebut yang tidak memahami bagaimana gaya belajar anak dan gaya kerja orang tua.

Intinya, penulis ingin di antara kita menyadari bahwa semua gaya belajar itu bagus. Tidak ada gaya yang buruk, namun persoalannya adalah pada pemaksaan pemasukan gaya belajar terhadap orang yang tidak menyukainya. (Encep Dulwahab, pengajar di Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Bandung)***